SUMUT, Lambemedannews – Di tengah keluhan masyarakat soal kelangkaan Minyakita, fakta mengejutkan justru terungkap. Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan ESDM Sumatera Utara menemukan bahwa stok minyak goreng subsidi tersebut sebenarnya melimpah bahkan mencapai ribuan ton, namun tersendat di gudang.
Temuan ini diperoleh setelah tim melakukan monitoring langsung ke sejumlah gudang milik Perum Bulog Kanwil Sumut di kawasan Medan dan sekitarnya pada pertengahan April 2026.
Stok Melimpah, Tapi Tak Sampai ke Masyarakat
Kepala Disperindag ESDM Sumut, Dedi Jaminsyah Putra Harahap, mengungkapkan total stok Minyakita yang tersimpan mencapai sekitar 2.415 ton. Ironisnya, dari jumlah tersebut, hanya 27 ton yang dialokasikan untuk pasar umum, sementara sisanya lebih dari 2.300 ton dikunci untuk program Bantuan Pangan (Bapang).
Gudang-gudang seperti Mustafa, Jemadi, dan Mabar menjadi titik penumpukan utama. Bahkan, satu gudang saja bisa menyimpan ratusan ton minyak goreng yang belum bergerak ke pasar.
Distribusi Tersendat, Angka Penyaluran Rendah
Data distribusi menunjukkan masalah serius. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, penyaluran Minyakita ke pengecer tidak pernah menyentuh 50% dari total pasokan:
- Januari: 33%
- Februari: 47%
- Maret: turun lagi ke 33%
Artinya, sebagian besar stok masih tertahan di gudang dan belum dinikmati masyarakat.
Akar Masalah: Skema Bantuan yang Kaku
Menurut Dedi, hambatan utama bukan pada ketersediaan barang, melainkan pada sistem distribusi program Bapang. Dalam skema ini, Minyakita harus disalurkan bersamaan dengan beras dalam satu paket.
Masalah muncul karena kemasan beras bergantung pada bahan baku impor berupa biji plastik. Dampak global, termasuk konflik di Timur Tengah, membuat harga bahan tersebut melonjak dan pasokannya terganggu.
Akibatnya?
Distribusi beras tertunda dan otomatis Minyakita ikut “terkunci” di gudang.
Solusi: Distribusi Fleksibel Harus Segera Diterapkan
Disperindag Sumut kini mendorong kebijakan baru agar distribusi bisa dilakukan secara parsial.
“Minyakita sebaiknya bisa disalurkan lebih dulu tanpa harus menunggu beras. Ini langkah cepat agar masyarakat tidak terus mengalami kelangkaan,” tegas Dedi.
Selain itu, penguatan koordinasi antara pemerintah daerah dan Bulog juga dinilai krusial agar rantai distribusi lebih efektif.
Aman di Stok, Sulit di Akses
Secara keseluruhan, kondisi ini menunjukkan paradoks:
stok aman, tapi akses masyarakat terbatas.
Jika kebijakan distribusi tidak segera diperbaiki, kelangkaan Minyakita di pasar berpotensi terus terjadi, meski gudang dalam kondisi penuh.
Intinya, persoalan bukan pada kekurangan barang, melainkan pada bagaimana barang tersebut sampai ke tangan rakyat.


















